Posted on 04 Februari 2017 at 14:44:08 WIB


PERBEDAAN ADALAH CINTA

PERBEDAAN ADALAH CINTA

Angin pagi berhembus begitu lembut menyapu sudut-sudut harapan, berbisik dengan lirih menyanyikan lagu-lagu penghayatan,membelai pipi-pipi yang merah merona, menghembuskan semangat perjuangan.

Di kota ini, kegaduhan sudah dimulai sejak pagi buta, menyanyikan berbagai macam problem kehidupan dan perbedaan. Berbagai macam suku,agama,ras dan golongan bercampur baur di kota ini. Kadang berdampingan sangat harmonis namun adakalanya mereka bersitegang karena gesekan rasial.

Di kota metropolit ini segala macam bentuk kebutuhan dan kepentingan berbaur seolah menjadi satu dengan tujuan kolektif  mempertahankan hidup dan kehidupan.

Di sebuah kos-kosan kelas menengah di kota yang kejam ini, hiduplah enam orang pemuda yang dilahirkan dari berbagai macam latarbelakang. Ahmad yang seorang muslim keturunan jawa ini adalah orang yang dituakan walaupun usianya bukan yang tertua namun karena kecerdasan dan kebijaksanaanya ia begitu dihormati. Richard, seorang pemuda asal Manado ini beragama Protestan, seorang yang periang dan juga ramah. Michael laki-laki gagah asal Ambon yang beragama Katolik, pemuda yang rendah hati dan juga ia terkadang berwatak keras. I Made Wardana, pemuda lembut dan suka menolong ini asli Bali yang beragama Hindu. Soni Gautama yang memiliki darah Jawa campur Kalimantan beragama Budha, dia begitu penyayang kepada sesama dan William Chow seorang pria tampan keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu yang dermawan.

Kehidupan keenam pemuda ini bisa bilang sangat rukun, penuh dengan toleransi. Mereka bergaul selayaknya perantau kebanyakan merasa memiliki dan saling membutuhkan. Siapa saja yang membutuhkan bantuan mereka berenam selalu ada untuk saling menolong satu sama lain. Namun adakalanya, mereka juga bergesekan, atau hanya sekedar adu mulut sama lain, mempertahankan ego dan harga diri masing-masing tapi ujustru gesekan itu yang mempererat persahabatan keenam pemuda itu.

Di suatu pagi, seperti biasa mereka mula bersiap-siap untuk memulai aktivitas masing-masing. Semua penghuni kos-kosan ini harus mengerjakan pekerjaan yang sudah diaturkan. Ada yang bertugas menyapu dan pel, ada yang bertugas mencuci piring dan perabotan dapur lainnya, mencuci baju, masak, menyetrika, dan segala tetek-bengek pekerjaan rumah yang harus dilakukan secara bergiliran.

Seperti biasa, jadwal harian yang tak pernah lewat adalah mengantri mandi karena kebetulan dikosan mereka ini hanya ada dua kamar mandi dan pada waktu itu hanya satu yang befungsi karena WC yang satunya lagi sedang bermasalah airnya mampet tidak keluar. Sistem dari antrian mandi ini yaitu siapa yang paling pagi bangun dia yang paling berhak untuk mandi duluan.

Michael yang sedang terburu-buru karena harus berangkat ke kantor sebelum jam 5 memang lebih pagi dari biasanya karena ia harus mempersiapkan bahan presentasi untuk meeting, ia langsung mengetok pintu WC.

“Bang Ahmad, lagi apa di dalam? Sudah mandikah atau belum?” dengan nada rusuh.

“Kenapa Mike?” sapaan pendek untuk Michael.

“Aku buru-buru mau ke kantor Bang, bolehkah aku mandi lebih dulu Bang?”

“Ok. Kebetulan aku baru masuk.” Walaupun Ahmad sudah ada di kamar mandi, ia keluar dan mempersilahkan Michael untuk mandi terlebih dahulu.

Ahmad selalu menjadi orang pertama yang bangun pagi. Dia selalu bangun sebelum subuh untuk melaksanakan shalat malam dan tentunya ia selalu shalat subuh berjamaah di mesjid.

Michael segera masuk WC.

“Makasih Bang.”

“Sama-sama.” Balas Ahmad

Setelah selang beberapa menit, Mike keluar juga dari WC sambil menggigil. Ahmad yang duduk di kursi dekat meja makan langgsung berdiri.

“Beres?.” Tanya kepada Mike

“Beres Bang, tapi dingin banget. Abang kuat banget hampir tiap hari mandi sebelum subuh. Hebatlah Bang.” Sambil mengacungkan dua jempol.

“Kuat karena sudah biasa.” Jawab Ahmad langsung masuk ke WC

                                                 #

Setelah Ahmad pulang dari mesjid, penghuni kamar kos yang lain mula menggeliat untuk bangun. Made, Richard, Gautama, dan William semuanya keluar dari kamar masing-masing.

Mikhael yang sudah berdandan rapi segera keluar. Menenteng tas kerjanya.

“Mau kemana kau pagi-pagi begini sudah rapi? Tanya Made

“Mau ke kantorlah, emang aku mau kemana lagi.” Jawab Mike sedikit

“Oh....”tambah Made

Made segera masuk ke kamarnya lagi mengambil dupa dan langsung menyalakannya. Begitu juga dengan William, dari dalam kamarnya ia telah menyalakan dupa lalu membawanya ke tengah ruangan. Seperti biasa mereka berdua selalu beribadah di pagi hari.

Richard yang seorang protestan biasanya ia pergi ke gereja setiap hari minggu sehingga tugas rumahan ia meminta libur. Richard langsung mengambil sapu dan membersihkan rumah.

Mike sedang mencari-cari sepatunya. Setelah berjalan bulak-balik ke dapur lalu ke dalam tengah rumah lagi.

“Made, kamu liat sepatu aku gak?” tanya Mike rusuh

“Nggak, coba tanya Gautama. Kemarin dia yang membereskan tempat sepatu.”

Mike berjalan begitu rusuh, masuk lagi ke dapur. Di dapur Gautama sedang mencuci piring dan Ahmad sedang mempersiapkan sarapan.

“Gautama, liat sepatu aku nggak?”

“Coba liat di bawah rak sepatu yang paling bawah di ruang tengah.” Jawab Gautama.

“Sarapan dulu Mike. Ini nasi gorengnya udah jadi.” Tawar Ahmad.

“Enggak ah Bang, makasih. Aku sarapannya dikantor aja.

Mike segera masuk keruang tengah. Di ruag tengah asap mengepul dan memenuhi ruangan.

“Apa-apa kalian ini William,Made?”Bentak Mike

“Kita sedang ibadah.” Jawab Made

“Ibadah? Kenapa asap mengepul seperti ini. Biasanya kalian juga ibadah di kamar masing-masing. Ini bau tahu, merusak pernapasan.” Bentak Mike

“Lah,emang kenapa kalau kita beribadah di ruang tengah. Salah?” Tanya William dengan nada tinggi.

“Iya, kalian mengotori ruangan bersama. Apalagi ini dengan sesajimu Made.”

“Apa kau bilang Mike. Ini persembahan untuk dewa. Pembawa berkat.”

“Apanya pembawa berkat, yang bener ini asap-asap dupa kalian ngottorin baju gue. Baju gua jadi bau. Gue ke kantor jadi bau dan itu karena asap dupa yang kalian nyalakan.”

“Biasanya juga kau tak komplain Mike. Kenapa sekarang kau protes.  Bukankah setiap hari kita biasa ibadah.:

“Ibadah kalian sudah mengganggu orang lain.”

“Apa  sih kau itu Mike. Kau selalu seperti itu mempermasalahkan hal sepele. Penghuni yang lain tak pernah mempersalahkan kami untuk ibadah dan Mas Ahmad sudah mengijinkan kami ibadah di rumah.” Jawab William

“Dasar kalian. Ibadah kok buat polusi.”

“Apa kau bilang Mike?”Made marah

Ahmad yang sedang membaca al-Quran di meja makan langsung ke ruang tengah melihat keributan yang terjadi. Gautama pun langsung mengikuti Ahmad masuk ke ruang tengah.

Di ruang tengah, Mike, Made dan William masih bersitegang.

Ahmad langsung masuk dan mencoba untuk melerai.

“Ada apa ini, pagi-pagi kalian kok sudah ribut?” tanya Ahmad

“Ini loh Bang,mereka pagi-pagi sudah membuat polusi udara dengan asap dupanya itu.” Jawab Mike ketus

“Kan, Mas Ahmad sendiri sudah mengizinkan kami untuk ibadah di rumah ini sesuai dengan agama kami masing-masing. Tak apa kan kita mneyalakan dupa dan membuat sesaji.” Tambah Made

“Iya aku memang mengizinkan.”

“Mas Ahmad, Gautama dan Richard tak pernah masalah kami beribadah di rumah. Tapi kenapa dengan kau Mike?”

“Gue gak suka dengan asap-asap kalain yang ngotorin baju dan buat napas sesak.” Tandas Mike

“Bukannya itu udah jadi kesepakatan kita bersama Mike, bahwa di rumah ini kita bebas melakukan ibadah sesuai agama masing-masing dan kita sesama penghuni harus menghormatinya. Ini dilindungi dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Loh. Sampeyan kan paham tentang itu. Pasal 29.”

“Iya Bang, tapi ini aku lagi buru-buru mau  ke kantor dan tanpa sengaja asap-asap mereka mengotori dan buat bajuku kotor dan bau Bang. Aku gak suka Bang. Itu polusi udara pagi-pagi Bang”

“Kalau mereka dilarang ibadah seperti itu karena alasan polusi udara. Berarti waktu aku membaca Al-Quran dan kau dan Richard menyanyikan puji-pujian mereka bisa mengnggap kita membuat polusi suara Mike.”

“Tapi Bang..” sanggah Mike

“Tak ada tapi-tapian. Kamu buru-buru mau ke kantor kan. Sepatunya udah ketemu?”

“Belum Bang.” Jawab Mike

“Gautama,Richard  tolong bantuin Mike memcari sepatunya.” Perintah Ahmad

“Iya Bang.” Jawab Gautama

“Kita memang berbeda Mike.Kita dilahirkan dengan latar belakang yang bebeda namun tak ada salahnya kita hidup berdampingan. Kita harusnya bersukur dengan semua perbedaan ini, perbedaan ini adalah rahmat, cinta.”

“Iya Bang.” Jawab William

“Rumah kosan ini kita ibaratkan sebagai miniatur Indonesia. Kita berbeda-beda tapi tetap satu tujuan. Kita berbeda tapi tetap satu kita orang Indonesia.”

“Ini, sepatumu Mike.” Richard menyerahkan sepatu pentopel hitam ke Mike.

“Makasih.” Mike menerima sepatu itu

“Iya, sama­-sama.”

“Sekarang kalian maaf-maafan William, Mike, dan Made. Tak seharusnya kalain ribut gara-gara hal seperti ini. Utamakan toleransi diantara kita. Kita berbeda bukan berarti tak bisa bersatu. Kita berbeda bukan berarti kita harus ribut. Jadikan pelajaran dari setiap perbedaan ini.”

“Maafin aku ya William, Made.”

“Iya sama-sama-Maafin kami juga ya.” Tmbah William

“Ok.”

Mereka semua saling berjabat tangan sambil tersenyum.

William dan Made melanjutkan ibdahnya. Ahmad pergi ke dapur untuk melanjutkan bacaan Al-Qurannya. Gautama dan Richard menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan tentunya Michael langsung berangkat ke katormya.

Sebenarnya perbedaan bukanlah masalah. Seragam juga belum tentu tanpa masalah. Yang terpenting adalah kita bisa saling menghormati dan toleran. Konflik tercipta karena kebanyakan diri yang intoleran. Maka dari itu  mari kita bersatu tanpa harus melihat latar belakang keyakinan dan ras mana kita dilahirkan. Perbedaan adalah anugrah. Perbedaan adalah rahmah dan perbedaan adalah cinta.