Posted on 04 Februari 2017 at 14:47:56 WIB


Setitik Noda di Masa Lalu

Setitik Noda di Masa Lalu

Written by : Amanda Hariyanti Putri

 

‘Pagi ini mendung ya, tak seperti hari kemarin.  Matahariku tampak malu, bersembuyi dibalik gumpalan awan. Seolah-olah Ia sedang tak ingin membagi sinarnya, atau Ia sudah cukup lelah, tidak...tidak... lelah untuk apa ?

oh bad argument-

Lihat, sepertinya awan akan menurunkan rintik tangisannya...’

(24 Oktober 2016)

 

“Astaghfirullah, kok saya mulai ngaco lagi yaa, kacau nih” racauku memarahi diri sendiri sambil menutup notes book yang telah ku isi dengan beberapa kata hasil pengamatan sekilas terhadap ekspresi alam pagi ini. Memang, menggoreskan pena diatas lembaran-lembaran my notes tentang wajah alam dipagi hari sudah menjadi kewajiban rutinku. Tapi kali ini, aku telah melanggar batasan-batasan yang telah ku terapkan sendiri, untuk tidak menyangkut-pautkan masalah pribadiku.

Tok, tok, tok-,  “Lifaaa”  ketukan dan suara lembut dari luar pintu kamar, sedikit mengagetkanku. Dengan cepat,  tanganku menarik laci di bawah meja belajar, dan menyimpan notes book  dibawah beberapa tumpukan buku.

“Iya Bun, Sebentar” jawabku dari dalam kamar. Aku berjalan mendekati pintu, dan memutar kenopnya kearah kanan.

“Ada apa, bun ?”

“eh, kok anak bunda belum mandi sih ?” tanyanya sambil mencubit hidungku.

“yah, bunda. Jangan dicubit dong” protesku atas perlakuan bunda yang memang  sering dengan tiba-tiba suka mencubit hidungku.

“kenapa belum mandi ?” Suaranya sedikit meninggi.

“yah, sekarang kan hari minggu, bun. Jadi mandinya agak siangan juga tidak apa-apa yak, hehe” jawabku sambil menebar senyum manis diakhir kalimat, tujuannya sih supaya bunda nanti gak marah, he.

“Tidak Bisa. Ayo cepat mandi, satu jam lagi kita pergi kerumah nenek, kau ingat sudah bertahun-tahun kau tak mau mengunjungi nenekmu, inilah saatnya, rubah sikapmu nak !” tegasnya. Bundapun berlalu dari depan kamarku.

Sesaat aku hanya mematung ditempat. Berusaha mencerna kembali kata-kata bundaku.

“Kerumah ne..nek.. ya ? aku memang rindu padanya, tapi apa Ia juga rindu padaku? Apa Ia masih seperti dulu ? apa Ia masih akan acuh padaku ? apa-apa-apa ?” tiba-tiba berpuluh-puluh pertanyaan tentangnya seakan menyerbu batinku. Kepalaku pening. Wajah orang yang dikatakan bunda yang menurutku seharusnya dapat akrab denganku, seperti berputar-putar mengelilingi kepala bagai bianglala.

“Ya Allah, pusing” sambil memegangi kepala, aku berjalan menuju tempat tidur.

Kurebahkan tubuhku, berusaha mencari ketenangan dengan memejamkan mata, sekitar 1-10 detik. Dari kaca jendela kulihat awan mulai mencapai titik jenuh, lalu rintik-rintik hujan turun darinya. Seiring dengan turunnya hujan diluar sana, otakku disini bekerja mencari sesuatu, seperti kaset yang memutar filmnya kebelakang, urutan kejadian demi kejadian pun seakan kusaksikan dengan nyata, sampai putaran film itu terhenti disatu titik, yang tiba-tiba membuat dadaku sesak.

“pertengkaran itu ?” gumamku

-***-

Di teras depan rumah yang dipenuhi mawar-mawar merah, terlihat  gadis kecil berkulit putih yang tengah bermain dengan boneka baru, dari sinar matanya ia terlihat sangat bahagia, berputar-putar bersama teddy bear birunya, sampai seseorang datang dan mengusiknya.

“Lifa, bonekanya bagus, pinjam dong!” ucap laki-laki kecil hitam manis yang baru datang, langsung merebut boneka yang sedang ditimang-timang oleh pemiliknya.

“jangan za !”

Setelah itu, Terjadilah pertengkaran kecil yang mendatangkan wanita paruh baya ke terasnya.

“eh, ada apa ini pagi-pagi bertengkar?”

“nek, tolongin. Boneka Lifa direbut Riza” ucap gadis kecil berkulit putih dengan penuh iba

“sudah-sudah, ayo Riza kita masuk kedalem” wanita itu menghentikan perdebatan dengan tidak adil. Ia membawa laki-laki kecil berkulit hitam kedalam rumah beserta boneka teddy bear biru yang berada digenggamannya.

-***-

Putaran fim dikepalaku terhenti, dadaku sesak dan nafasku tersengal. Mengapa kejadian itu kembali terputar ? Sebegitu bencikah Ia padaku ? kutarik nafas dalam-dalam dan kuhembuskan. Dari dulu nenek memang lebih sayang sama Riza, secara nenek kan ingin sekali memiliki cucu laki-laki. Sedangkan aku terlahir sebagai seorang perempuan. Hanya karena konsep gender, aku pun dianggap tak ada.

“Bismillah, jangan suudzon dulu mudah-mudahan sekarang nenek udah berubah, Aamiin” batinku sedikit memanjatkan do’a.

Dengan berusaha menghalau rasa galau yang dengan tiba-tiba menyergap hatiku. Aku menjalankan perintah bundaku untuk bersiap-siap.

Setelah bersiap-siap, ku laksanakan dua rakaat sembahyang dhuha, dan ku lantunkan beberapa ayat suci Al-Qur’an. Tiba pada Q.S. Al-Hujurat ayat 13, dadaku berdesir membaca arti dari ayat tersebut

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

 

“Astaghfirullah, selama ini aku telah salah, seharusnya aku bisa lebih akrab pada Riza dan Nenek, kami kan satu keluarga seharusnya kami bisa saling mengenal degan baik. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini, jika aku telah memutuskan silaturahmi hanya karena pertengkaran kecil itu.”

 

Satu jam kemudian, aku telah sampai di pekarangan rumah yang di bingkai oleh banyak sekali mawar merah.

“Masih sama” pikirku.

Aku, bunda, dan ayah memasuki teras rumah itu, rumah yang bergaya kuno tapi terlihat minimalis. Dari kaca jendela yang bening, Terlihat didalam rumah seorang wanita yang sedang memasuki masa tuanya, duduk manis sambil berbincang-bincang dengan  remaja berwajah hitam manis, mereka terlihat seperti nenek dan cucu laki-laki yang sangat akrab yah, sudah sewajarnya, bukan ?

Kulangkahkan kakiku menghampiri nenek, kuucapkan salam dan beberapa kalimat sapaan, kuberikan senyuman terbaikku dan kuajak sepupuku Riza mengobrol. Disela-sela aku dan Riza asik mengobrol, nenek mengajakku untuk mengikutinya ke sebuah ruangan, disana ia memberiku sebuah kotak biru yang entah apa isinya.

“Itu milikmu, Lifa. Maafkan nenek, dulu nenek seakan membeda-bedakanmu dengan Riza” ucap nenek.

“iya, enggak apa-apa nek, nenek kan memang ingin sekali memiliki cucu laki-laki, karena laki-laki kan jagoan, pemberani dan kuat” ucapku.

“iya Lifa, tapi nenek sadar setelah mengobrol dengan ibumu. Seharusnya nenek tidak membedakan kalian hanya karena gender. Kamu juga cucu nenek yang jagoan, pemberani, dan kuat. Nenek juga menyayangimu Lifa”ucapnya, ia pun memelukku dengan sangat erat.

‘Ternyata pagi ini sangat Indah ya, setelah diguyur hujan subuh tadi. Matahari kembali bersinar cerah....

Lihatalah, ada goresan berwarna-warni yang melintang dari ufuk barat... Begitu cantiknya pelangi, warna-warnanya yang berbeda bisa membentuk satu kesatuan utuh yang begitu menawan...

Begitupun dalam hidup ini, perbedaan tidak boleh lagi menimbulkan pertengkaran...

Betul begitu kan, Bhinneka Tunggal Ika ?’

(25 Oktober 2016)