Posted on 04 Februari 2017 at 14:57:31 WIB


Makna Adil dalam Norma di Keluarga dan Masyarakat “Kok Pilih Kasih Sih ?”

Makna Adil dalam Norma di Keluarga dan Masyarakat

“Kok Pilih Kasih Sih ?”

 

Disuatu rumah yang tak begitu besar yang dibalut cat berwarna putih dengan pagar hitam yang tinggi   terdapat lima anggota keluarga yang terdiri dari Ayah Ibu dan ketiga anaknya. Sang Ayah bernama Wawan dan Ibu yang bernama Eka mereka mempunyai dua orang anak laki-laki dan satu anak perempuan, Panji adalah anak pertama kaka pertama dari Pandu dan sibungsu satu-satunya anak perempuan dirumah itu adalah Jingga.

Ketiga anak itu memiliki jenjang sekolah yang berbeda Panji sedang duduk di bangku SMA kelas 2, Pandu kelas 3 SMP sementara Jingga sedang duduk di kelas 6 SD. Kaka beradik itu sesekali memang terlihat sangat akrab sehingga suasana rumah slalu terasa hangat dengan canda tawa kaka beradik itu, namun tetap saja tidak dapat dipungkiri perkelahian kerap kali terjadi.

Tepat pada hari senin pukul 06.30 suasana rumah seperti biasa ramai karena hari senin hari pertama mereka bersekolah dan Ayah pun mulai bekerja. “ Ibu aku mau minta uang jajan hari ini dong” saut Panji sambil turun dari tangga, “ ibu ibu aku juga mau yaa, sama minta uang tambahan buat tugas ya bu … ?” sambung Pandu. Jawab ibu “ iya iya ayo udah kita sarapan dulu yah !” . Mereka pun mulai sarapan bersama dan ibu sibuk menyuapi Jingga yang masih sangat dimanja oleh ibu, tak lama kemudian Ayah pamit terlebih dahulu untuk bekerja tak lama kemudian Panji, Pandu dan Jingga menyusul pergi pamit pada Ibu untuk berangkat sekolah karena mobil jemputan sekolah sudah terparkir depan rumah.

Suatu hari Panji diam-diam mendatangi Ibu yang sedang melipat baju “ bu Panji mau beli motor dong, Panji malu sama temen-temen udah gede ko naik bus sekolah terus, boleh ya bu kan Panji juga udah 17 Tahun udah boleh bikin SIM” nada Panji sambil memelas memohon agar ibu bisa mengabulkan permintaannya, “ iya nanti Ibu coba bilang sama Ayah ya” jawab Ibu dengan lembut. Satu bulan setelah Panji terus memohon pada Ayah dan Ibu akhirnya tepat pada hari ulang tahun Panji kedua orang tuanya memberikan kado sebuah motor untuk Panji, pada hari hari yang menyenangkan itu terlihat Pandu sedang memasang muka suram ketika tahu bahwa kakanya mendapatkan hadiah sepeda motor. “ ko ka Panji dibeliin motor sih sama Ayah kan dia masih sekolah, sementara aku minta ga boleh terus sama Ibu !” Pandu bergerutu dalam hati sambil menatap sinis kakanya yang sedang bergembira karena akhirnya keinginannya dikabulkan.

Setelah beberapa hari selang ulang tahun Panji mereka seperti biasa sarapan bersama di meja makan yang terletak tepat depan dapur, seperti biasa Jingga masih sering disuapi Ibu ketika sarapan bersama, dipertengahan sarapan tiba-tiba Pandu memperlihatkan sikap marahnya “ Ayah aku juga mau dong dibelikan motor sama kaya ka Panji, kenapa Ayah sama Ibu pilih kasih sama Pandu, udah ka Panji dapat uang jajan paling besar terus kalo ada maunya pasti langsung dikabulin sama Ayah sama Ibu…” saut Pandu dengan nada kelas dan langsung pergi keluar. “ Pandu … Pandu… bukan gitu sayang” panggil ibu dengan berusaha untuk mengikuti Pandu namun ayah langsung menahan Ibu, “ sudah bu biarkan dulu nanti kita bicarakan setelah dia pulang sekolah” jawab Ayah dengan bijak. “ Ka Pandu kenapa bu ? haha sirik ya sama ka Panji hiihihi” saut Jingga dengan nada polos.

Sabtu malam rumah itu terlihat ramai dengan canda tawa seperti biasa rumah itu selalu hangat namun sampai saat ini Pandu msih terlihat marah, pada saat itu Ibu sedang sibuk membantu Jingga membuat kerajinan untuk tugas sekolah dan Panji dengan tingkah tengilnya slalu menggoda Jingga dan membuat candaan kecil sedangkan Ayah sedang sibuk rapat dengan warga setempat karena Ayah menjabat sebagai ketua RT 04 di komplek Johar Baru, ayah sedang rapat membicarakan mengenai kerja bakti dan acara syukuran untuk RT 04 kerja bakti sendiri akan di laksanakan pada hari minggu pagi sementara syukuran akan dilaksanakan pada hari Rabu yang akan datang. Agenda rapat kali ini membicarakan mengenai undangan untuk syukuran siapa saja yang akan diundang di syukuran tersebut karena memang mayoritas warga di RT 04 adalah Islam sehingga syukuran yang dilaksanakan bertemakan Islam namun memang ada beberapa warga RT04 ada yang non Islam dan jarang bergaul dengan warga setempat, sehingga Ayah sebagai ketua RT memutuskan untuk tidak mengundang lima keluarga yang nonis dan jarang bergaul di RT tersebut, “ sudah bagaimana jika lima keluarga itu tidak perlu diundang saja karena mereka jarang berkontribusi di RT ini dan mereka juga nonis jadi kita hargai karena kan acara ini nanti ada pengajian dan lain-lain” usul Ayah pada rapat itu, kemudian warga yang lain pun menyetujuinya dan sepakat untuk tidak mengundang mereka.

Kerja bakti pun selesai dilakukan dan Panji ikut membantu Ayah dan warga lainnya, namun Pandu tetap saja terlihat marah. Saat itu tepat pukul 14.00 ayah mengajak semua keluarga berkumpul di ruang keluarga “ sini Pandu dekat Ayah …” saut ayah sambil melambaikan tangan kea rah Pandu, Pandu pun mendekat duduk disebelah Ayah sementara yang lain duduk di depan Ayah membuat suatu lingkaran, “ Pandu kenapa masih marah sama Ayah? Gini sayang anak Ayah yang ganteng Ayah ngasih motor sama ka Panji bukan berarti Ayah ga sayang sama Pandu atau Jingga bukan Ayah pilih kasih atau Ayah ga adil, tapi Pandu harus tau ka Panji sudah besar sudah SMA sudah boleh punya SIM jadi Ayah berani ngasih ka Panji motor, sedangkan Pandu kan masih SMP belum cukup umur buat bikin SIM karena bahaya kalo belum boleh punya SIM nanti kalo ada apa-apa Ayah yang salah juga, dan soal uang jajan bukan berarti Ayah ga adil ngasih uang jajan ke kalian beda-beda, tapi Pandu harus tau apa yang ka Panji butuhkan dengan apa yang Pandu atau Jingga butuhkan itu sudah berbeda jadi Ayah ga bisa kasih sama kalian slalu sama, inget nih anak-anak Ayah harus tau kalo adil itu bukan berarti sama tapi adil itu harus bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya…” kata Ayah dengan mengelus kepala Pandu “ iya sayang denger tuh kata Ayah, sekarang gini deh kalo ibu kasih uang jajan Jingga sama kaya uang jajan Pandu atau ka Panji ibu adil ga? Sementara kebutuhan Pandu yang udah SMP tambah banyak ya buat tugas dan lainnya dan ade Jingga masih SD belum banyak keperluan, jadi ibu kasih uang jajan kalian beda bukan ibu ga adil atau pilih kasih tapi ibu tau apa yang kalian butuhkan…” lanjut ibu, akhirnya Pandu pun mengerti arti keadilan itu seperti apa dan slama ini dia telah salah menilai kasih sayang orangtuanya.

Hari rabu pun tiba acara syukuran di gelar di ruamah pak RT yaitu rumah pak Wawan acara syukuran itu diselenggarakan setelah sholat magrib, ibu-ibu sedang sibuk menyiapkan hidangan makanan untuk acara syukuran Jingga ikut bantuin ibu sedangkan Panji dan Pandu ikut bergabung di ruang tamu, diam-diam Panji memperhatikan para undangan.

Panji   :  “ yah ko pak Josep dan pak Gabriel ga dateng yah itukan ayahnya temen-temen      Panji yah…” Tanya Panji dengan nada penasaran.

Ayah   :  “ mereka memang sengaja tidak diundang ka..”

Panji    :  “ ko gitu sih yah ?”

Ayah   : “ iya ini kan acara syukuran RT 04 dan ada pengajiannya ka, jadi Ayah ga undang mereka kesini karena mereka juga jarang aktif dan bergaul di dengan warga lainnya”

 Panji   : “ ko gitu sih yah Ayah ga adil nih bukannya ayah kemaren ngajarin kita tentang adil ya? Mereka kan warga Ayah juga yah walaupun mereka tidak suka bergaul dengan yang lainnya atau karena mereka nonis juga yah…!”

Ayah   : “iya tapi ini juga sudah jadi kesepakatan warga ka”

Panji    : “ tapi mereka tetep punya hak untuk diundang yah, karena mereka warga ayah juga terlepas mereka mau datang atau tidak karena acaranya pengajian  atau mereka tidak bergaul dengan baik setidaknya ayah harus berbuat adil sama semua warga ayah, Tuhan aja maha adil yah ga pernah pilih kasih hiihi…”

Pandu   : “ iya yah, kata guru PKn Pandu kebetulan tadi baru belajar hehe… kita harus mengamalkan nilai Pancasila contohnya sila ke2 yah gini yah 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab nah jadi ayah harus adil sama semua warga ayah mereka harus diundang yah…”

Ayah    : “ aduh ini anak Ayah udah pada pinter aja yah kayanya udah lebih ngerti dari ayah nih soal keadilan haha… diajarin sama siapa sih jagoan-jagoan Ayah ini ?”

Panji    : “ diajarin Ayah kemaren, jadi sekarang Panji yah yang ngajarin Ayah haha”

Pandu  : “ diajarin ibu PKn tadi pagi yah hehe”

Ayah    : “ iya iya deh makasih yah udah ngingetin Ayah, udah yah Ayah mau ke rumah pak Gabriel sama yang lainnya mau langsung Ayah undang deh ayo siapa yang mau ikut?”

Panji     : “ aku yah sambil mau ngajak Kevin juga biar dateng hehe …”

Pandu   : “ aku juga yahhh tungguu !!!”

Akhirnya Ayah berubah pikiran dan mengundang lima keluarga tersebut dengan langsung mendatangi rumahnya ditemani Panji dan Pandu. Sebagai warga negara yang baik kita harus bisa mengamalkan norma-norma keadilan dalam keluarga maupun dalam tingkat yang lebih besar yaitu masyarakat, kita harus senantiasa mengingat dan mengamalkan sila ke-2 yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab” karena kedamaian itu akan terwujud jika keadilan tercipta dengan sempurna.